BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM

Selasa, 27 April 2010

Cintailah ia Karena-Nya Semata


Jika engkau mencintai seseorang benar – benar murni karena kecintaan yang sejati, maka engkau tidak akan pernah memandanganya dari apapun kecuali dari keimanan dan hati.

Jika engkau mencintainya karena hanya mengharapkan cinta hakiki, maka engkau tidak akan pernah merasa lelah dan marah kala ia menguji hati.

Jika engkau mencintainya bukan karena nafsu duniawi, maka engkau tidak akan pernah memandangnya dari kelebihan yang ia miliki.

Jika engkau benar – benar mencintainya karena yang Maha Penyayang, engkau tidak akan pernah berharap balasan kasih sayang darinya, tapi engkau hanya berharap balasan kasih sayang dari yang Maha Memiliki kasih sayang.

Jika engkau mencintainya karena Robbnya, kecintaanmu padanya tidak akan pernah berkurang kala engkau mengetahui kekurangan pada dirinya.

Jika engkau mencintainya karena mengharapkan balasan kasih sayang darinya, maka engkau tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang yang murni.

Jika engkau mencintainya karena kelebihannya, maka engkau akan kecewa kala engkau melihat kekurangannya.

Jika engkau mencintainya karena nafsu duniawi, maka engkau akan mendapatkan dirimu dalam kekecewaan yang tinggi kala dia menguji hati.

CINTAILAH IA KARENA-NYA, MAKA ENGKAU AKAN MENDAPATKAN KETENANGAN DALAM HATI.......

Sabtu, 10 Oktober 2009

Laa Takun Dho'ifan

Robb, betapa banyak hikmah yang Kau berikan dalam keidupan ini.....

Usai pelajaran B.arab aku langsung kembali ke asrama karena tumpukan bajuku sudah menunggu untuk disetrika.

Baru saja beberapa helai baju kerapikan, tiba-tiba ada pesan pendek masuk ke ponselku. setelah kubuka, ternyata dari ketua umum organisasi yang saat ini sedang kugeluti. awalnya dia menanyakan perkembangan SDM di divisi akhwat yang memang dipimpin olehku. ujungnya dia mengeluhkan problem yang ada di SDM ikhwan, yang akibatnya jadi problem tersendiri buatnya, sehingga dia merasa lemah buat menjalaninya.

Itulah kita.... mungkin tidak seberapa perjuangan dan kepedihan kita dalam mengarungi jalan juang ini di bandingkan para pejuang terdahulu. Tapi kita gampang sekali mengeluarkan sebuah pernyataan LEMAH.

Setelah itu, selang beberapa jam kemudian, ada akhwat yang menelpon, dan mengeluhkan hal yang sama pula.....

Aku merenung...Robb, ada pelajaran apa sebenarnya yang ingn Kau sampaikan pada hamba?

"Aku lemah...." kata-kata itulah yang disampaikan mereka.

Rasa lemah, rasa lelah mungkin kadang kita rasakan, karena memang pada dasarnya kita memiliki sifat demikian.

"Allah hendak memberikan keringanan padamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." (Qs. An - Nisa: 28)

Sesunguhnya Allah adalah Dzat yang tidak pernah megingkari janji juga Maha Adil. Ketika Dia menciptakan sifat dasar manusia yang lemah, maka Dia pun berjanji akan memberikan keringanan pada manusia.

Yakinkah kita dengan janji Allah?

Jika kita seorang mukmin, sudah tentu hal itu tidak usahlah dipertanyakan lagi.
Tapi, kenapa masih ada orang yang merasa lemah padahal janji Allah itu nyata akan adanya? jawabannya ialah karena manusia sendiri tidak senantiasa mensyukuri apa - apa yang dialami dan dirasakannya. Sehungga dari lisannya keluar kata - kata keluhan yang membuat hati kita itu tidak bisa bernafas lega, dan sugesti negatif pun menguasai jiwa hingga akhirnya kita merasa lemah.

"Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh, dan apabila ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesa, dan apabila mendapat (harta) dia kikir, kecuali orang - orang yang melaksanakan shalat." ( Qs. Al - Ma'arij: 19 - 22 )

Siapakah orang yang melaksanakan shalat itu?

yaitu orang - orang yang yajin dengan ketentuan dan janji Allah. Sehingga bersikap lemah itu tidak seharusnya terjadi pada seorang mukmin.

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman." ( Qs. Ali - Imron: 139)
Ya Robb, inikah jawaban dari do'a - do'a hamba ketika diri senantiasa meminta kekuatan dari-Mu dalam menjalani hidup yag tidak begitu mudah dilalui.... Allohu a'lam





Kuningan, April 2009

Rabu, 11 Juni 2008

Dimana Saudaraku Rabb...??

Dunia ini sungguh sepi...
sepi dari kebenaran
sepi dari orang-orang yang selalu menjaga kesucian

Diri didunia serasa sendiri,
tiada sahabat yang menemani,
kecuali semilir angin segar yang menyapu lembut wajah,
dan suara-suara binatang malam
yang bersahutan seolah menghiburku

Rabbi,
Begitu banyak saudaraku...
seiman ! sesujud ! selafadz ! sekiblat !
Tapi mengapa hari ini aku merasa sendiri ??
Amat... sepi...
dimana mereka semua Rabbi...?

Kudatangi rumah mereka, terkunci !
letih...kucari tiada jumpa,
akupun pulang pada-Mu
ya. letihku bermuara disini.
dalam isak disela sujudku, aku merajuk pada-Mu


Bandung. Mei 2005

Hanya Untuk Rabb-ku

Disaat kutafakuri diri...
betapa kerdilnya diri dimata-MU Illahi.
Kucoba tuk lebur segala dosa dari keangkuhan dalam hidup,
Dan kusesali diri, mengapa harus terjadi ?

Rabbi,
Kekhusyuanku entah dimana,
Saat Kau seru, aku tidak menyahut,
seakan aku ini tuli.

Kusadar, dakwah adalah kewajiban,
namun ku hanya menyambutnya sekali-kali,
itupun tidak penuh kesungguhan

Butakah engkau wahai jiwaku ??
ditengah umat dalam kubangan kemaksiatan dan kekufuran,
kumasih berkutat dengan kepentingan sendiri.

Rabbi,
Bila demikian, layakkah diri memasuki firdaus-Mu ??
Layakkah diri terhindar dari adzab-Mu ??
Berhakkah diri Engkau panggil dengan sapaan mesra,
Ya...Ayyatuhannafsul Muthmainnah ??

Rabb, ampuni segala khilafku,
satu hal yang harus terpatri dalam hidup ini selamanya,
Hanya Engkau ya Rabb, yang menjadi tujuan hidup,
dan kutahu, hanya diri-Mu yang berkuasa atas diri,
tiada satupun yang dapat menandingi kebesaran-Mu




Bandung, Mei 2005

Yang Merindu-Nya,

Rabu, 28 Mei 2008

Ada Satu Amanah Mulia di Pundak Kita

“Wahai Rasul ! sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhan-Mu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tida menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah)

Keindahan dunia begitu menyilaukan mata, membuat kita terlena dan selau ingin berlari ingin mencarinya. Setelah didapat, membuat kita terlelap dininabobokan oleh dunia yang hina, sehingga lupa bahwa kaki kita harus dipijakkan dalam satu perjuangan menjalankan amanah-Nya. Memang, itu tidaklah mudah. Membutuhkn pengorbanan dan kerja keras dari para pengemban-Nya. Tapi, semua itu akan Allah balas dengan jannah-Nya. Insya Allah.

“Hai orang-orang beriman, Sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam Syurga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shaf)

Sekali lagi perjalanan ini tidaklah mudah. Kadang kakipun terasa berat untuk dilangkahkan dan tanganpun terasa berat untuk berbuat. Karena perjalanan ini tidak hanya membutuhka teoritis tapi juga realisasi dari para pengemban-Nya. Untuk mengeluarkan sebuah teori memang mudah, tapi untuk merealisasikannya membutuhkan sebuah perjuangan yang begitu berat.

Bukan ! Amanah kita bukan hanya sekedar memenuhi rukun dari agama kita saja. Masih ada amanah lain yang kebayakan ditinggalkan oleh umat Islam sendiri.

Apa kita masih berdiam diri ketika kezaliman sangat nampak di depan mata kita sendiri ? Ketika kejujuran sudah menjadi hal yang sangat sulit ditemukan, ketika tolong menolong antar saudara sediri sudah menjadi barang yang sangat mahal,ketika kebobrokan moral sudah tidak dipedulikan, ketika kebenaran hanya sekedar tinggal kata-kata. Ketika ayat-ayat-Nya hanya tinggal sebatas hiasan lisan (naudzubillah) ?

Lalu mana amanah-Nya yang sudah tersampaikan? Jangan-jangan saat ini kita masih berkutat dengan kepentingan sendiri, belum ada sesuatu yang bias kita persembahkan untuk agama kita, untuk umat, untuk generasi Islam yang akan datang ?

Bangunlah Saudaraku !

Islam menantimu, tempalah ruhimu, susullah mereka yang sudah mendahului melangkah di jalan-Nya. Jika kita masih terlena dengan kenikmatan dunia, dengan hangatnya selimut dan empuknya kasur, dengan enaknya makanan yang terhidang dihadapan, dengan indahnya alunan musik yang melenakan. Maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa selain ketertinggalan dan penderitaan akhirat yang tiada henti. Wallahu ‘Alam

Senin, 19 Mei 2008

Kekuatan Qiyamullail

“ Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.”

(QS. al-Isra [17]: 79)

Alangkah malunya jika kita mengaku mencinta-Nya tapi tidak mau menyambut kedatangan-Nya disepertiga malam terakhir. Padahal pada saat itu ditengah keheningan Dia datang untuk memberikan rahmat-Nya.

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Allah setiap malam turun kelangit bumi pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, “ Siapa yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku kabulkan do’anya ! Siapa yang memohon kepada-Ku maka kan Aku berikan permohonannya ! Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka kan Aku ampuni.” (HR Bukhari Muslim)

Begitu Maha Rahman dan Maha Rahim-Nya Allah, pada saaat itu Dia memberikan apa yang kita panjatkan pada-Nya. Namun, tidak cukup sampai disitu. Dia pun memberikan dan mencurahkan Rahim-Nya disisi lainnya, yaitu: kemuliaan, ketenangan jiwa, dan kekuatan mental.

“Ketahuilah kemulaan seorang muslim tergantung pada shalat malamnya…”

(HR Tabrani dari Sahal bin Sa’ad ra )

Kemuliaan seseorang bukan tergantung pada tingginya jabatan yang ia sandang, bukan terletak pada kepopulerannya seseorang. Karena tidak sedikit orang pupuler malah dicibir dan dihinakan banyak orang dan juga bukan tergantung pada banyaknya harta yang dimiliki. Seorang Qarun pun hidupnya tidak menjadi mulia dangan melimpahnya harta. Itu semua hanyalah kenikmatan dunia yang hanya Fatamorgana dan sesaat.

Kemuliaan akan diperoleh oleh seorang hamba jika seorang hamba itu mencintai penciptanya dan Sang Pencipta pun mencintainya.

“ Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku.” (QS al-Fajr: 27-30)

Keoptimisan dalam diri akan senantiasa menghiasi diri bagi mereka yang senantiasa menghidupkan malamnya dengan qiyamullail. Kesejukan jiwa akan dirasa ketika kalimat-kalimat-Nya kita lantunkan di keheningan malam. Dan beban yang kita pikul menjadi terasa ringan, ketengan menjalani hidup menyelusup dalam hati mengantar menjalani hari-hari kita yang tak mudah dilalui. Kerinduan akan perjumpaan kita dengan Sang Khaliq semakin kuat bersemayam dalam hati, mendorong diri untuk melangkah pada jejak yang pasti menuju perbekalan panjang, sebagai ajang persiapan diri menanti hari perjumpaan dengan-Nya.

Kekuatan jiwa akan teraih bila kita suda bisa mempertahankan malam-malam kita dengan qiyamullail, sehingga keloyalitasan untuk berkorban Fisabilillah tidak dipertanyakan lagi. Lain halnya bagi orang yang enggan menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamullail, untuk melaksanakan ibadah yang beresiko kecil saja enggan, apalagi melaksanakan ibadah yang memerlukan banyak pengorbanan.

Bukankah Rasulullah saw lebih mencintai para sahabat yang selalu menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamullail ?

Pada Suatu hari beberapa sahabat mendatangi Rasulullah dan mengadukan bahwa si fulan tidak mengerjakan qiyamullail. Baginda Rasulullah saw pun bersabda,

“ Syetan kencing ditelinga orang tersebut…”

(HR Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

Bukankah panji-panji Islam ini ingin kembali bangkit ? Lalu bagaimana mungkin cita-cita itu akan kita raih jika ruh kita masih lemah dan bermalas-bermalasan ?!

Diriwayatkan oleh Al-Ayyubi, sang pembebas Maqdis. Di masa-masa pertempuran yang sedang ia jalani, pada waktu dini hari beliau biasa menyamar untuk menyelidiki bala tentaranya dikemah mereka masing-masing. Shalahudin menjenguk kemah-kemah yang mana didirikan shalat malam didalamnya dan kemah-kemah yang mana penghuninya tertidur lelap. Keesokan harinya, ketika memilih tentara untuk berperang beliau memanggil kemah-kemah yang penghuninya berqiyamullail, dan tidak memanggil tentara yang tidur tanpa melakukan qiyamullail. Karena golongan yang kuat tidurnya tidak memiliki mental yang cukup kental dan kuat untuk melawan musuh.

“Rabb kita mengagumi dua orang laki-laki. Pertama, seorang laki-laki yang meninggalkan alas tidur dan selimutnya dari sisi keluarga dan istri tercinta untuk melakukan shalat malam. Maka Allah swt berfirman, “ Lihatlah hamba-Ku, dia meniggalkan alas tidur dan selimutnya dari sisi istri dan keluarganya untuk melakasanakan shalat malam karena mengharap karunia-Ku dan takut terhadap siksa-Ku. Kedua, seorang laki-laki yang berjuang di jalan Allah, ketika dia melihat teman-temannya terpukul mundur dan dia tahu akibat dari kekalahan itu, namun dia tetap maju pantang mundur hengga tetes darah yang terakhir. Maka Allah swt berfirman, “ Lihatlah hamba-Ku dia kembali dari peperangan semata-mata karena mengharap karunia-Ku dan takut terhadap siksa-Ku, hingga dia rela mencucurkan darahnya yang terakhir.”

(HR Ahmad dan Abu Ya’la dari Ibnu Mas’ud ra )

“ Hendaklah kalian mengerjkan qiyamullail, karena qiyamullail adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kalian, sebab qiyamullail mendekatkan diri kepada Allah, mencegah diri dari dosa, menghapus kesalahan-kesalahan dan mengusir penyakit dari tubuh.”

(HR at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Abu Umamah ra )

Rabu, 14 Mei 2008

Dimana Kebahagiaan Itu...???

Setiap orang selalu mendamba untuk mendapatkan predikat kata yang satu ini; ”BAHAGIA.” Berbagai macam jalan telah dilalui, berbagai macam cara telah diterjuni, bahkan kelelahan telah menyelimuti dalam diri demi sebuah kebahagiaan.

Sahabat, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat di genggam. Kebahagiaan tidak bisa didapat dengan cucuran keringat, dengan berlari kencang. Itu akan sangat meyulitkan bagi kita jika mendapatkan kebahagiaan hanya dengan cara seperti itu. Jika caranya hanya seperti itu tentunya sangat sedikit sekali makhluk di dunia ini yang dapat merasakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan bukan untuk dikejar. Semakin panjang langkah kaki kita untuk mengejarnya, maka semakin sulit kebahagiaan itu kita dapat.

Sahabat, kebahagiaan yang sesungguhnya selalu bersama kita. Kemanapun kita melangkah, apapun yang kita jalani. Dalam langkah kita; ketika kita sendiri, ketika kita sedang menikmati sunyi, ketika kita sedang dirundung rindu, ketika kita sedang disibukkan dengan pekerjaan kita. Disitulah kebahagiaan itu selalu hadir menemani, tapi kita sangat jarang menyadari. Karena kita tidak bisa menikmati setiap langkah yang kita jalani.

Sahabat, kebahagiaan itu ada di sini….di dalam jiwa ini ! ya, kebahagiaan itu ada dalam kalbu kita. Cobalah untuk menelusuri….
Kemanapun pergi, dia akan senantiasa menemani. Jika kita senantiasa menikmati alunan keindahan dalam setiap langkah kita. Bahkan kesedihan pun akan menjadi kebahagiaan jika kita mau menyelami.

Ya, ternyata kebahagiaan selalu berada di sekeliling kita. Selalu mengikuti langkah kita. Sehingga tidak perlulah kita untuk mencari, bahkan berlari.

Allahu ‘Alam,