BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Rabu, 22 Juni 2011
सूरत रिंदु उन्तुक इबुकू...
semakin ku beranjak dewasa, semakin ku memahami arti hidup. yang penuh dengan warna - warni pelangi kehidupan.
ibu...
aku semakin beranjak dewasa, bahkan ku saat ini akan menjadi penerus seorang ibu yang sedang berjuang untuk melahirkan generasi yang mencintai Robbnya. aku menjadi semakin memaknai arti dirimu wahai ibuku...
ibu...
ku sangat merindukan keteladan akan sebuah kekuatan serta kesabaran yang pernah dulu engkau tanamkan pada hati ini..
ku begitu sangat merindukan saat ini engkau berada di sisiku serta menularkan semangat dan kekuatan yang telah kau miliki. saat ini, wajahmu yang senantiasa tersenyum dengan pacaran ketulusan benar - benar hidup di kelopak mataku.
wahai ibuku...
engkaulah sumber kekuatan setelah aku meminta pada Rabbku,
ibu...
pertanyaanku dulu terjawablah sudah, setiap kali ku melihat genangan mutiara yang mengalir di pipimu dulu ku bertanya dalam sanubari, namun tak mampu ku ungkap karena ku takut sungai yang mengalir di pipimu itu semakin membanjiri wajahmu yang sayu itu.
kini ku merasakan semua itu bu...
aku merasakannya bu...
hingga detik...
wahai ibuku...
begitu ku sangat merindukanmu...
rindu dengan belaian ketulusanmu...
rindu dengan kata - kata ketulusanmu...
ibu...
tidak ada yang ku inginkan detik ini selain bisa mendekapmu, dan bercerita panjang tentang kehidupan...
wahai Rabbku..
tiada kebahagian bagi diriku selain berjumpa denganMu juga ibuku di syurgaMu,,perkenankanlah ya Robb...
Kamis, 29 Juli 2010
Wahai Robbku...
Tapi yang kutanyakan, “Layakkah diri mendapatkan ujian ini?”
Karena ujian ini hanya Engkau timpakan pada hamba – hambaMu yang yakin akan ke-Maha Adilan-Mu.
Robbi, ketika Engkau uji diri dengan kesakitan. Aku tidak bertanya, “kenapa ini menimpaku?”
Tapi yang kutanyakan, “layakkah diri mendapatkan ujian ini?”
Karena ujian ini Engkau timpakan pada hamba – hambaMu yang kuat.
Robbi, ketika Engkau uji diri dengan kesempitan. Aku tidak bertanya “Kenapa ini menimpaku?”
Tapi yang kutanyakan, “Layakkah diri mendapatkan ujian ini?”
Karena ujian ini hanya Engkau timpakan pada hamba – hambaMu yang yakin akan pertolonganMu.
Robbi, ketika Engkau uji diri dengan kegelisahan. Aku tidak bertanya “Kenapa ini menimpaku?”
Tapi yang kutanyakan, “layakkah diri mendapatkan ujian ini?”
Karena ujian ini hanya Engkau timpakan pada hamba – hambaMu yang tidak pernah luput dari menyebut asma-Mu.
Robbi, ketika Engkau uji diri dengan pengkhianatan. Aku tidak bertanya “Kenapa ini menimpaku?”
Tapi yang kutanyakan, “layakkah diri mendapatkan ujian ini?”
Karena ujian ini hanya Engkau timpakan pada hamba – hambaMu yang Ikhlas..
Robbi, ketika Engkau timpakan ujian bertubi pada diri. Aku tidak bertanya “Kuatkah aku menjalani ujianMu?”
Tapi yang kutanyakan pada diri, “Seberapa kuatkah aku menjalani ujianMu?”
Karena ujian ini hanya Engkau timpakan pada hamba – hamba pilihanMu.
Lantas, berhakkah diri ini menerima semua ujian itu wahai Robbku ???
Minggu, 23 Mei 2010
Bolehkah wanita memakai parfum yang aromanya tercium oleh orang lain ????
“Setiap wanita mana saja yang memakai wangi – wangian lalu berjalan melewati suatu kaum supaya mereka mencium bau wanginya itu, berarti dia telah berzina.” ( HR. Ahmad, An – Nasa’i, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Perbedaan antara parfum pria dan wanita ; parfum pria tercium aromanya tetapi tidak tampak warnanya. Sebaliknya, parfum wanita, tidak tercium aromanya tetapi tampak warnanya.
Dari Abu Hurairah r.a dia berkata : “ Parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya, dan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (HR. Tirmidzi dan An – Nasa’i)
Dari Imran bin Hushain, dia menceritakan, Rasulullah saw telah bersabda :
“Ketahuilah, parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya. Sedangkan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Sebagian perawi mengatakan : “Yang demikian itu jika dipergunakan di luar rumah, tetapi jika sedang berada di sisi suaminya, maka di boleh memakai parfum sekehendak hatinya.
Dari Abu Hurairah r.a dia menceritakan, Rasulullah saw telah bersabda :
“Setiap wanita mana saja yang mengenakan bau wangi, maka hendaklah di tidak mengerjakan shalat isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)
Kembalikan ia ya Robbi...
Dia mengisi hari, ia menjadi pedorong kala kaki ingin terhenti disela hari, ia menjadi penawar kala uji menghiasi disela hari, ia menjadi peneduh kala murka menguji disela hari, ia menjadi penggugah kala lelah mengisi disela hari.
Aku namakan ia si.................................................................“KOMITMEN SEJATI”
Kini aku merasa sepi dan sendiri, ia telah berpaling dari diri. Karena diri begitu lemah tuk mempertahankannya di hati. Ia telah pergi karena kelalain diri, ia telah pergi karena tergoda nafsu duniawi.
Dimana kutemukan dia ya Robbi.... ??
Rasanya hati terlalu lemah tuk mengejar, kaki terlalu kaku tuk melangkah, lidah terasa kelu tuk memanggil.
Bantulah diri agar ia bangkit kembali.....
Selasa, 04 Mei 2010
UKHTI...........
Ingin hati sedikit berbagi...
Ukhti...
Hidup ini ternyata tak seindah yang kita jalani
Ada banyak aral yang menghalang,
Ada banyak duri yang menakuti....
Ukhti...
Diri ini terus merangkak,
Merangkak dan merangkak untuk gapai tujuan hakiki...
Entah lusa atau esok hari,
Masihkah ku bisa bertahan diri ???
Selasa, 27 April 2010
Cintailah ia Karena-Nya Semata
Jika engkau mencintai seseorang benar – benar murni karena kecintaan yang sejati, maka engkau tidak akan pernah memandanganya dari apapun kecuali dari keimanan dan hati.
Jika engkau mencintainya karena hanya mengharapkan cinta hakiki, maka engkau tidak akan pernah merasa lelah dan marah kala ia menguji hati.
Jika engkau mencintainya bukan karena nafsu duniawi, maka engkau tidak akan pernah memandangnya dari kelebihan yang ia miliki.
Jika engkau benar – benar mencintainya karena yang Maha Penyayang, engkau tidak akan pernah berharap balasan kasih sayang darinya, tapi engkau hanya berharap balasan kasih sayang dari yang Maha Memiliki kasih sayang.
Jika engkau mencintainya karena Robbnya, kecintaanmu padanya tidak akan pernah berkurang kala engkau mengetahui kekurangan pada dirinya.
Jika engkau mencintainya karena mengharapkan balasan kasih sayang darinya, maka engkau tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang yang murni.
Jika engkau mencintainya karena kelebihannya, maka engkau akan kecewa kala engkau melihat kekurangannya.
Jika engkau mencintainya karena nafsu duniawi, maka engkau akan mendapatkan dirimu dalam kekecewaan yang tinggi kala dia menguji hati.
CINTAILAH IA KARENA-NYA, MAKA ENGKAU AKAN MENDAPATKAN KETENANGAN DALAM HATI.......
Sabtu, 10 Oktober 2009
Laa Takun Dho'ifan
Usai pelajaran B.arab aku langsung kembali ke asrama karena tumpukan bajuku sudah menunggu untuk disetrika.
Baru saja beberapa helai baju kerapikan, tiba-tiba ada pesan pendek masuk ke ponselku. setelah kubuka, ternyata dari ketua umum organisasi yang saat ini sedang kugeluti. awalnya dia menanyakan perkembangan SDM di divisi akhwat yang memang dipimpin olehku. ujungnya dia mengeluhkan problem yang ada di SDM ikhwan, yang akibatnya jadi problem tersendiri buatnya, sehingga dia merasa lemah buat menjalaninya.
Itulah kita.... mungkin tidak seberapa perjuangan dan kepedihan kita dalam mengarungi jalan juang ini di bandingkan para pejuang terdahulu. Tapi kita gampang sekali mengeluarkan sebuah pernyataan LEMAH.
Setelah itu, selang beberapa jam kemudian, ada akhwat yang menelpon, dan mengeluhkan hal yang sama pula.....
Aku merenung...Robb, ada pelajaran apa sebenarnya yang ingn Kau sampaikan pada hamba?
"Aku lemah...." kata-kata itulah yang disampaikan mereka.
Rasa lemah, rasa lelah mungkin kadang kita rasakan, karena memang pada dasarnya kita memiliki sifat demikian.
"Allah hendak memberikan keringanan padamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." (Qs. An - Nisa: 28)
Sesunguhnya Allah adalah Dzat yang tidak pernah megingkari janji juga Maha Adil. Ketika Dia menciptakan sifat dasar manusia yang lemah, maka Dia pun berjanji akan memberikan keringanan pada manusia.
Yakinkah kita dengan janji Allah?
Jika kita seorang mukmin, sudah tentu hal itu tidak usahlah dipertanyakan lagi.
Tapi, kenapa masih ada orang yang merasa lemah padahal janji Allah itu nyata akan adanya? jawabannya ialah karena manusia sendiri tidak senantiasa mensyukuri apa - apa yang dialami dan dirasakannya. Sehungga dari lisannya keluar kata - kata keluhan yang membuat hati kita itu tidak bisa bernafas lega, dan sugesti negatif pun menguasai jiwa hingga akhirnya kita merasa lemah.
"Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh, dan apabila ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesa, dan apabila mendapat (harta) dia kikir, kecuali orang - orang yang melaksanakan shalat." ( Qs. Al - Ma'arij: 19 - 22 )
Siapakah orang yang melaksanakan shalat itu?
yaitu orang - orang yang yajin dengan ketentuan dan janji Allah. Sehingga bersikap lemah itu tidak seharusnya terjadi pada seorang mukmin.
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman." ( Qs. Ali - Imron: 139)
Ya Robb, inikah jawaban dari do'a - do'a hamba ketika diri senantiasa meminta kekuatan dari-Mu dalam menjalani hidup yag tidak begitu mudah dilalui.... Allohu a'lam
Rabu, 11 Juni 2008
Dimana Saudaraku Rabb...??
sepi dari kebenaran
sepi dari orang-orang yang selalu menjaga kesucian
Diri didunia serasa sendiri,
tiada sahabat yang menemani,
kecuali semilir angin segar yang menyapu lembut wajah,
dan suara-suara binatang malam
yang bersahutan seolah menghiburku
Rabbi,
Begitu banyak saudaraku...
seiman ! sesujud ! selafadz ! sekiblat !
Tapi mengapa hari ini aku merasa sendiri ??
Amat... sepi...
dimana mereka semua Rabbi...?
Kudatangi rumah mereka, terkunci !
letih...kucari tiada jumpa,
akupun pulang pada-Mu
ya. letihku bermuara disini.
dalam isak disela sujudku, aku merajuk pada-Mu
Bandung. Mei 2005
Hanya Untuk Rabb-ku
betapa kerdilnya diri dimata-MU Illahi.
Kucoba tuk lebur segala dosa dari keangkuhan dalam hidup,
Dan kusesali diri, mengapa harus terjadi ?
Rabbi,
Kekhusyuanku entah dimana,
Saat Kau seru, aku tidak menyahut,
seakan aku ini tuli.
Kusadar, dakwah adalah kewajiban,
namun ku hanya menyambutnya sekali-kali,
itupun tidak penuh kesungguhan
Butakah engkau wahai jiwaku ??
ditengah umat dalam kubangan kemaksiatan dan kekufuran,
kumasih berkutat dengan kepentingan sendiri.
Rabbi,
Bila demikian, layakkah diri memasuki firdaus-Mu ??
Layakkah diri terhindar dari adzab-Mu ??
Berhakkah diri Engkau panggil dengan sapaan mesra,
Ya...Ayyatuhannafsul Muthmainnah ??
Rabb, ampuni segala khilafku,
satu hal yang harus terpatri dalam hidup ini selamanya,
Hanya Engkau ya Rabb, yang menjadi tujuan hidup,
dan kutahu, hanya diri-Mu yang berkuasa atas diri,
tiada satupun yang dapat menandingi kebesaran-Mu
Yang Merindu-Nya,
Rabu, 28 Mei 2008
Ada Satu Amanah Mulia di Pundak Kita
“Wahai Rasul ! sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhan-Mu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tida menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah)
Keindahan dunia begitu menyilaukan mata, membuat kita terlena dan selau ingin berlari ingin mencarinya. Setelah didapat, membuat kita terlelap dininabobokan oleh dunia yang hina, sehingga lupa bahwa kaki kita harus dipijakkan dalam satu perjuangan menjalankan amanah-Nya. Memang, itu tidaklah mudah. Membutuhkn pengorbanan dan kerja keras dari para pengemban-Nya. Tapi, semua itu akan Allah balas dengan jannah-Nya. Insya Allah.
“Hai orang-orang beriman, Sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam Syurga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shaf)
Sekali lagi perjalanan ini tidaklah mudah. Kadang kakipun terasa berat untuk dilangkahkan dan tanganpun terasa berat untuk berbuat. Karena perjalanan ini tidak hanya membutuhka teoritis tapi juga realisasi dari para pengemban-Nya. Untuk mengeluarkan sebuah teori memang mudah, tapi untuk merealisasikannya membutuhkan sebuah perjuangan yang begitu berat.
Bukan ! Amanah kita bukan hanya sekedar memenuhi rukun dari agama kita saja. Masih ada amanah lain yang kebayakan ditinggalkan oleh umat Islam sendiri.
Apa kita masih berdiam diri ketika kezaliman sangat nampak di depan mata kita sendiri ? Ketika kejujuran sudah menjadi hal yang sangat sulit ditemukan, ketika tolong menolong antar saudara sediri sudah menjadi barang yang sangat mahal,ketika kebobrokan moral sudah tidak dipedulikan, ketika kebenaran hanya sekedar tinggal kata-kata. Ketika ayat-ayat-Nya hanya tinggal sebatas hiasan lisan (naudzubillah) ?
Lalu mana amanah-Nya yang sudah tersampaikan? Jangan-jangan saat ini kita masih berkutat dengan kepentingan sendiri, belum ada sesuatu yang bias kita persembahkan untuk agama kita, untuk umat, untuk generasi Islam yang akan datang ?
Bangunlah Saudaraku !
Islam menantimu, tempalah ruhimu, susullah mereka yang sudah mendahului melangkah di jalan-Nya. Jika kita masih terlena dengan kenikmatan dunia, dengan hangatnya selimut dan empuknya kasur, dengan enaknya makanan yang terhidang dihadapan, dengan indahnya alunan musik yang melenakan. Maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa selain ketertinggalan dan penderitaan akhirat yang tiada henti. Wallahu ‘Alam
Senin, 19 Mei 2008
Kekuatan Qiyamullail
“ Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.”
Alangkah malunya jika kita mengaku mencinta-Nya tapi tidak mau menyambut kedatangan-Nya disepertiga malam terakhir. Padahal pada saat itu ditengah keheningan Dia datang untuk memberikan rahmat-Nya.
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Allah setiap malam turun kelangit bumi pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, “ Siapa yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku kabulkan do’anya ! Siapa yang memohon kepada-Ku maka
Begitu Maha Rahman dan Maha Rahim-Nya Allah, pada saaat itu Dia memberikan apa yang kita panjatkan pada-Nya. Namun, tidak cukup sampai disitu. Dia pun memberikan dan mencurahkan Rahim-Nya disisi lainnya, yaitu: kemuliaan, ketenangan jiwa, dan kekuatan mental.
“Ketahuilah kemulaan seorang muslim tergantung pada shalat malamnya…”
(HR Tabrani dari Sahal bin Sa’ad ra )
Kemuliaan seseorang bukan tergantung pada tingginya jabatan yang ia sandang, bukan terletak pada kepopulerannya seseorang. Karena tidak sedikit orang pupuler malah dicibir dan dihinakan banyak orang dan juga bukan tergantung pada banyaknya harta yang dimiliki. Seorang Qarun pun hidupnya tidak menjadi mulia dangan melimpahnya harta. Itu semua hanyalah kenikmatan dunia yang hanya Fatamorgana dan sesaat.
Kemuliaan akan diperoleh oleh seorang hamba jika seorang hamba itu mencintai penciptanya dan Sang Pencipta pun mencintainya.
“ Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku.” (QS al-Fajr: 27-30)
Keoptimisan dalam diri akan senantiasa menghiasi diri bagi mereka yang senantiasa menghidupkan malamnya dengan qiyamullail. Kesejukan jiwa akan dirasa ketika kalimat-kalimat-Nya kita lantunkan di keheningan malam. Dan beban yang kita pikul menjadi terasa ringan, ketengan menjalani hidup menyelusup dalam hati mengantar menjalani hari-hari kita yang tak mudah dilalui. Kerinduan akan perjumpaan kita dengan Sang Khaliq semakin kuat bersemayam dalam hati, mendorong diri untuk melangkah pada jejak yang pasti menuju perbekalan panjang, sebagai ajang persiapan diri menanti hari perjumpaan dengan-Nya.
Kekuatan jiwa akan teraih bila kita suda bisa mempertahankan malam-malam kita dengan qiyamullail, sehingga keloyalitasan untuk berkorban Fisabilillah tidak dipertanyakan lagi. Lain halnya bagi orang yang enggan menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamullail, untuk melaksanakan ibadah yang beresiko kecil saja enggan, apalagi melaksanakan ibadah yang memerlukan banyak pengorbanan.
Bukankah Rasulullah saw lebih mencintai para sahabat yang selalu menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamullail ?
Pada Suatu hari beberapa sahabat mendatangi Rasulullah dan mengadukan bahwa si fulan tidak mengerjakan qiyamullail. Baginda Rasulullah saw pun bersabda,
“ Syetan kencing ditelinga orang tersebut…”
(HR Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)
Bukankah panji-panji Islam ini ingin kembali bangkit ? Lalu bagaimana mungkin cita-cita itu akan kita raih jika ruh kita masih lemah dan bermalas-bermalasan ?!
Diriwayatkan oleh Al-Ayyubi, sang pembebas Maqdis. Di masa-masa pertempuran yang sedang ia jalani, pada waktu dini hari beliau biasa menyamar untuk menyelidiki bala tentaranya dikemah mereka masing-masing. Shalahudin menjenguk kemah-kemah yang mana didirikan shalat malam didalamnya dan kemah-kemah yang mana penghuninya tertidur lelap. Keesokan harinya, ketika memilih tentara untuk berperang beliau memanggil kemah-kemah yang penghuninya berqiyamullail, dan tidak memanggil tentara yang tidur tanpa melakukan qiyamullail. Karena golongan yang kuat tidurnya tidak memiliki mental yang cukup kental dan kuat untuk melawan musuh.
(HR Ahmad dan Abu Ya’la dari Ibnu Mas’ud ra )
“ Hendaklah kalian mengerjkan qiyamullail, karena qiyamullail adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kalian, sebab qiyamullail mendekatkan diri kepada Allah, mencegah diri dari dosa, menghapus kesalahan-kesalahan dan mengusir penyakit dari tubuh.”
(HR at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Abu Umamah ra )
Rabu, 14 Mei 2008
Dimana Kebahagiaan Itu...???
Setiap orang selalu mendamba untuk mendapatkan predikat kata yang satu ini; ”BAHAGIA.” Berbagai macam jalan telah dilalui, berbagai macam cara telah diterjuni, bahkan kelelahan telah menyelimuti dalam diri demi sebuah kebahagiaan.
Sahabat, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat di genggam. Kebahagiaan tidak bisa didapat dengan cucuran keringat, dengan berlari kencang. Itu akan sangat meyulitkan bagi kita jika mendapatkan kebahagiaan hanya dengan cara seperti itu. Jika caranya hanya seperti itu tentunya sangat sedikit sekali makhluk di dunia ini yang dapat merasakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan bukan untuk dikejar. Semakin panjang langkah kaki kita untuk mengejarnya, maka semakin sulit kebahagiaan itu kita dapat.
Sahabat, kebahagiaan yang sesungguhnya selalu bersama kita. Kemanapun kita melangkah, apapun yang kita jalani. Dalam langkah kita; ketika kita sendiri, ketika kita sedang menikmati sunyi, ketika kita sedang dirundung rindu, ketika kita sedang disibukkan dengan pekerjaan kita. Disitulah kebahagiaan itu selalu hadir menemani, tapi kita sangat jarang menyadari. Karena kita tidak bisa menikmati setiap langkah yang kita jalani.
Sahabat, kebahagiaan itu ada di sini….di dalam jiwa ini ! ya, kebahagiaan itu ada dalam kalbu kita. Cobalah untuk menelusuri….
Kemanapun pergi, dia akan senantiasa menemani. Jika kita senantiasa menikmati alunan keindahan dalam setiap langkah kita. Bahkan kesedihan pun akan menjadi kebahagiaan jika kita mau menyelami.
Ya, ternyata kebahagiaan selalu berada di sekeliling kita. Selalu mengikuti langkah kita. Sehingga tidak perlulah kita untuk mencari, bahkan berlari.
Allahu ‘Alam,
Senin, 12 Mei 2008
Belajar Pada Tadhiyah Khadijah
Belajar Pada Tadhiyah Khadijah
Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari sosok mujahidah yang lahir pada awal kedatangan Islam ini. Terutama dalam hal Tadhiyyah. ”Tiada perjuangan tanpa pengorbanan.”
Seorang Mujahid pernah berujar :
”Seharusnya Al-akh yang sejati akan merasa sumpek dan tidak puas jika dalam satu hari ia tidak melakukan tadhiyyah di jalan-Nya.”
Hari ini jalan juang telah dilangkahkan, hari–hari telah dilalui dengan penuh pengorbanan. Dan pengorbanan hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang siap berada pada barisan terdepan. Siapkah kita untuk seperti mereka? Atau kita hanya akan seperti umat Nabi Musa ketika diseru untuk berjuang,
”Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, kami menanti disini saja.”
Dalam konteks keakhwatan, kita dapat belajar dari sosok-sosok mujahidah pilihan Allah. Seperti Khadijah yang rela mengorbankan seluruh harta, jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam, rela merasakan lapar yang amat sangat, dan panasnya padang pasir yang harus dilalui ketika harus menemani hijrahnya Rasulullah yang mulia.
Siti Hajar yang rela ditinggalkan dipadang pasir tandus beserta bayi mungil Ismail tanpa perbekalan yang cukup, demi terpenuhinya perintah Allah yang Agung.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Pengorbanan Khadijah yang akhirnya membuahkan sebuah kemajuan Islam yang bisa kita rasakan saat ini. Dan pengorbanan Hajar yang melahirkan sebuah peradaban, sebuah kota suci, Makkkah Al-Mukarramah.
Memang tidaklah ringan untuk berani melangkahkan perjuangan yang harus selalu disertai dengan pengorbanan. Saat ini, kita banyak menyaksikan perjuangan saudara-saudara kita di Palestina yang pantang menyerah untuk merebut kembali Al-Quds dari cengkraman Yahudi laknatullah ’alaih. Tak terkecuali para muslimahnya, bahkan telah banyak diantara mereka yang telah menjadi syuhada, suatu kemenangan yang agung.
Saudari kita di negara sekuler, terinjak-injak kebebasannya untuk memenuhi identitasnya sebagai muslimah. Tapi mereka berusaha mempertahankan yang telah menjadi azasinya itu, betapapun beratnya kecaman yang mereka rasakan. Sudah jelas, mereka melakukannya sebagai wujud tadhiyyahnya di jalan Allah.
”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah swt. Lalu mereka membunuh atau terbunuh.(Itu telah menjadi) janji yang benar dari jalan Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah ? maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. dan itulah kemenangan yang besar.”
(QS. At-Taubah:111)
Lalu, bagaimana dengan kita disini sebagai seorang muslimah ?
Berapa banyak tadhiyyah yang telah kita lakukan di jalan Allah ?
Ya Ayyuhal Akhowat....segeralah bangun dari tidur kita.
Musuh-musuh Allah telah dihadapan, genderang perang telah diperdengarkan, senjata telah dipanggul, kafilah dakwah telah berjalan, mereka berangkat untuk meraih kemenangan. Dan kemenangan hanya akan diraih dengan tekad dan pengorbanan.
Apa yang bisa kita pikirkan dan kerjakan untuk kemenangan umat ini ?
Dakwah tidak hanya sebatas teoritis. Tapi yang dinanti umat saat ini adalah adanya aksi dari para pengemban amanah umat. Sehingga kita bisa menjadi pelayan terbaik –Nahnu khadimul Ummat-
Allahu ’Alam,
Allah, Sang Motivatorku....
Sering kita sadari bahwasanya kita tidak bisa sendiri untuk memenuhi impian kita yang selalu diselimuti dengan aral dan perjuangan. Itu tidak bisa dipersalahkan karena memang sudah fitrahnya bagi kita sebagai insan yang lemah. Tentunya harus ada sesuatu yang membuat kita bisa terus bertahan dengan langkah kita yang kadang tersaruk dan tertatih dalam menapaki sebuah impian. Tapi, kita juga tentunya harus bisa memilih apa dan siapa yang bisa dijadikan penyemangat kala kita sudah kelelahan sebelum impian itu kita raih.
Saya jadi teringat pertanyaan guru saya ketika semangat kita hampir kendur untuk meneruskan amanah. Pertanyaan guru saya itu begitu membangunkan hati saya, "Tidak cukupkah Allah sebagai motivasi untuk meneruskan langkah kita?"
Iya, ALLAH sebagai motivasi untuk menapaki kembali langkah yang sempat tertatih karena besarnya perjuangan untuk meneruskan langkah yang senantiasa dihiasi dengan duri yang melintang ditengah perjuangan kita.
Cukuplah ALLAH !!
Karena bila kita menjadikan orang-orang yang kita cintai sebagai motivator kita, maka suatu saat kita harus bersiap untuk kehilangan semangat kita. Karena mereka tidak akan selamanya ada di samping kita untuk terus memberi semangat pada diri.
Bila kita menjadikan materi sebagai pemacu untuk meneruskan langkah kita maka bersiaplah untuk kehilangan impian kita.Karena suatu saat mereka akan habis seiring berjalannya waktu dan Allah berhak mengambilnya kapan saja sesuai yang dikehendaki-Nya.
Cukuplah ALLAH bagimu....
Karena Dia telah menyediakan syurga seluas langit dan bumi bagi para pencari-NYa.
Apalagi yang kita impikan selain Firdaus-nya ????
INNALLAAHA MA'ANA YA...IKHWAH...
Rehatlah Sejenak.....
kita telah lewati detik, menit, jam, hari, pekan dan tahun-tahun yang cukup panjang dan melelahkan....
semuanya sudah berlalu....
berapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan selama itu ??
mari kita mereka-reka jawabannya....
Ya. ternyata baru itulah kesungguhan yang kita lakukan untuk menyongsong sebuah kehidupan yang pasti dan abadi.
Ternyata, hanya sedikit bekal kumpulkan untuk merebus kebahagiaan akhirat ....
Sudah cukup ??
Pasti tidak !!!
sementara kita sama sekali tidak tahu, berapa tahun, berapa pekan, berapa hari, berapa jam, berapa menit, berapa detik lagi yang tersisa di hadapan kita.
sekarang kita berada disini, Di detik. menit, jam hari, pekan, dan tahun ini ada harapan penuh dalam hati keadaan yang lebih baik dari yang lalu. Karena hanya disini kesempatan kita untuk mengukir kebaikan.
Dunia ini hanya memiliki tiga hari....
Hari kemarin, yang sudah berlalu...dan kita tidak bisa lagi untuk mengubahnya.
Hari esok, hari yang tidak tahu apakah kita masih memiliki kesempatan didalamnya ?
Hari ini, kesempatan kita untuk melakukan perbaikan diri.
Semua kita pasti sangat mendambakan Rahmat Allah untuk bisa dimasukkan ke dalam jannah-Nya.
Itulah kemenangan abadi, kenikmatan yang tak ada tandingannya.
Kenikmatan yang membuat kita tak akan puas hanya sekadar berada di gerbangnya.
Kenikmatan yang membuat kita tak akan berhenti hanya sekedar masuk beberapa langfkah di halamannya.
Kenikmatan agung yang membuat siapapun takkan pernah berharap kecuali sampai kepuncaknya yang paling tinggi...."SYURGA FIRDAUS" kita bahkan berharap ingin termasuk kategori kelompok 'iliyyin, yaitu orang-orang yang ditinggikan.....
Yang merindu-Mu,
Membaca Dan Merenung

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan terbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka". (QS. Ali-Imran: 190-191)
Rasulullah SA W bersabda: "Celakalah orang yang membaca ayat ini akan tetapi tidak memikirkannya". (Al-HAdits)
Bagaimana Allah menciptakan alam yang Maha Luas ini begitu sangat teraturnya dengan komposisi kehidupan yang sangat luar biasa ??
Dia yang mengatur alam, mengatur siang dan malam sebagai pemenuh tuntutan makhluk yang yang dibumi. sehingga dengan malamnya kita bisa beristirahat dengan ditemani suasana yang sangat menenangkan dan dhiasi dengan bintang gemintang dan siangnya kita bisa melakukan aktivitas kembali dengan suasana yang menunjang pula, dengan suasana yang begitu cerah dan dihiasi awan gemawan.
Banyak sekali rahasia Allh yang masih tersembunyi dalam jagat raya ini, meski saat ini banyak sekali para ilmuwan dengan penemuan-penemuan barunya. Dan tentunya itu tidak membuat kita berhenti untuk merenung justru menjadi bahan renungan baru kita. Rahasia apa lagi yang masih terpendam ??
Tapi, apa mungkin kita bisa menggali semua rahasia Allah yang masih tersembunyi ?? Siapakah kita ??
Kita merupakan salah satu makhluk dari penciptaan-Nya yang memang diperintahkan untuk merenung tentang penciptaan-Nya supaya ada ilmu yang sampai pada hati dan menjadi hamba yang bersyukur. Tapi harus kita sadari juga bahwa ada rahasia Allah yang tidak mampu ditembus oleh akal kita. kecuali oleh kekuasaan-Nya.
Dalam pangkal ayat ini, diantara Rahman-Nya Allah kepada kita manusia dan jin adalah diberi kebebasan kepada kita unutuk melintasi alam ini baik unutuk mengetahui rahasia yang terpendam di muka bumi ataupun hendak menuntut berbagai macam ilmu dengan sepenuh tenaga dan segenap akal kita karena mendalamnya pengetahuan, namun pada akhir ayat-Nya Allah mengingatkan kita bahwa kekuasaan kita tetap saja terbatas. secerdas apapun otak kita, dan seluas apapun pengetahuan kita, tetap kita tidak bisa menembus semua rahasia Allah, kecuali dengan kekuasaan-Nya. karena semua pekerjaan sangat bergantung pada kekuasaan-Nya
Coba kita ingat kembali bagaimana usaha manusia hendak mengetahui alam yang luas ini.
Manusia menyelidiki keadaan di bulan dengan terbang menggunakan pesawat Apollo yang ukuran waktunya sangat cepat sekali, sehinggga berhasil mereka sampai kebulan dan bisa kembali dengan selamat. Tetapi manusia belum merasa puas sampai disitu. manusia hendak mengetahui pula keadaan venus. Apakah akan berhasil manusia mengetahui seluruh alam semesta ini ?
Bisakah manusia mengetahui keadaan diseluruh bintang-bintang ?
konon ada yang jarak jauhnya dari manusia sampai 100.000 tahun perjalanan cahaya, adakah manusia akan mendapat alat yang cepat perjalanannya sama dengan kecepatan perjalanan cahaya itu ?? Dan kalau ada alat demikian didapat apakah ada manusia yang mempunyai umur 200.000 tahun ?? untuk 100.000 tahun pergi kesana dan 100.000 tahun pulang kembali ? padahal ada bintang yang jauhnya dari kita ini sebilangan satu juta tahun cahaya sehingga ada bintang yang cahayanya masih bisa kita lihat dari bumi ini, padahal dia telah meninggalkan tempatnya yang kelihatan itu sekitar ratus ribu tahun atau sekian juta tahun. berapalah usia umur manusia, paling lama 100 tahun. Dan kalau umur sudah 100 tahun, semua tenaga sudah lemah terutama akal dan pikiran. ( Tafsir Al-Azhar jilid 2 )
Maha Suci Allah yang Maha Mengetahui, Sehingga tidak ada yang patut kita sombongkan dalam diri. ketika kita sudah tidak sanggup untuk menggali rahasaia-Nya maka kita hanya bisa mengingat-Nya dalam segala aktivitas kita dengan penuh rasa cinta, khauf dan raja' sambil berucap : Rabbanaa maa kholaqtahaadza baatilaa subhaanaka faqinaa 'adzaabannaar. Ya Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, Lindungilah kami dari adzab neraka.
Wallahu'alam